Tuesday, September 3, 2019

150 Tahun Indonesia Merdeka

150 TAHUN INDONESIA MERDEKA
Oleh: Ivana Grace Laiya

Sudah, les terakhir sudah hampir selesai. Aku dan teman-teman sekelasku bergegas untuk memasukkan segala alat sekolah ke dalam tas, kecuali, dia.

Dia? Ya. Teman sebangkuku. Dia orang yang aneh, menurutku. Biar aku cerita sedikit. Dia jarang menghiraukan sekelilingnya. Yang dilakukannya pada jam kosong dan istirahat hanya membaca buku, sementara orang lain memesan makanan dan mengobrol dengan teman-teman yang lain. Buku yang dibacanya? Sepertinya buku yang sudah lama sekali; kertasnya lusuh dan kuning, tulisan di sampulnya sudah tidak terbaca, dan tulisan di dalam pun tidak aku mengerti. Kalau bukan karena aku penasaran dengan tingkah lakunya, aku pun tidak tertarik untuk melirik buku itu.

Jika sudah membuka buku itu, dia akan sangat fokus ke buku itu. Lebih dari fokusnya ke papan LCD di depan kelas saat pembelajaran.

Oh, bel sudah berbunyi. Tunggu, aku dapat jatah piket kelas hari ini! Ah, berarti aku harus pulang lebih lama dari teman-teman yang lain.

Tanpa lama-lama lagi aku membereskan segala sesuatu yang menjadi bagianku; mematikan papan LCD, menutup jendela, memastikan semuanya beres..

Yang tidak piket hari ini sudah pulang, kecuali sebangkuku itu. Awalnya aku biarkan saja dia di situ.

Setelah semua sudah beres dan aku hendak pulang, aku masih melihat dia di situ, asyik dengan bukunya. Aku menegornya, "Kamu, tidak pulang?"

Dia menatapku, tanpa sepatah kata pun; aku bingung.

"Ya sudah, aku pulang duluan,"

Melihat aku menyandang tasku, dia mengambil sesuatu dari tasnya. Semacam kain, tapi ada dua warna. Bentuknya horizontal memanjang; di atas merah, di bawah putih.

Oh, itu bendera negara yang diceritakan guru sejarah tadi.
Dia punya itu? Dapat darimana dia?

Lalu dia berlari keluar kelas. Aku penasaran, jadi kuikuti dia. Dia pergi ke belakang lapangan dan menghadap ke sebuah tiang panjang yang sudah berkarat. Itu sudah lama ada di situ, tapi aku tidak tahu apa tujuan tiang itu ditaruh di situ.

Dia lalu menarik tali yang ada di tiang itu, mengikat bendera di dua titik, dan mengibarkannya. Aku semakin bingung. Apa penyakitnya kambuh?

Karena khawatir aku menghampiri dia. Belum sempat aku bicara dengannya dia melakukan posisi menghormat yang biasanya kami lakukan jika seorang pejabat lewat. Tidak ada pejabat apapun di sini. Hanya aku, dia, dan tiang juga bendera itu.

Aku bertanya, "Apa yang kau lakukan?"

"Hari ini tanggal 17 Agustus,"jawabnya.

"Ya, lalu?"

Aku tidak mengerti apa yang dia maksud.

No comments:

Post a Comment