HARAPAN
Harapan. Kedengarannya menyenangkan. Aku berharap semoga begini, aku berharap semoga begitu. Harapan kuibaratkan seperti sesuatu yang disenangi.. Sesuatu yang berkilau, seperti emas.
Aku ingin emas yang sangat berkilau. Aku ingin harapanku menjadi kenyataan. Dalam kehidupan aku memiliki banyak harapan, ada yang sudah terwujud, ada yang belum terwujud.
Oh betapa senangnya hatiku ketika harapanku terwujud. Aku kembali lagi berandai-andai dan menjalankan proses yang lain lagi. Ya, tidak mudah menjalaninya. Begitu banyak rintangan. Lalu suatu ketika aku terjebak di keadaan dimana aku harus mengorbankan harapanku sendiri.
Tidak, aku tidak berkorban demi harapanku waktu itu! Tapi aku berkorban untuk sesuatu yang katanya lebih penting; kesehatan.
Dengan berat hati aku harus melepaskan harapan itu begitu saja.
Aku buntu, bingung. Ini.... menyakitkan.
Sudah lama sejak kejadian itu. Hari ini aku teringat kembali dengan saat itu, lalu aku sadar beberapa hal.
Harapan itu bukan cuma angan-angan indah saja. Untuk mewujudkannya dibutuhkan proses, dan proses untuk menuju kesempurnaan itu tidak ada yang mudah. Emas harus ditempa, kain harus dijahit dengan jarum yang tajam agar menjadi baju yang bagus, bahkan kain batik sekalipun dibatik menggunakan lilin panas agar menghasilkan batik yang baik.
Seringkali, untuk mewujudkan harapan itu, kita perlu mengorbankan sesuatu; penting atau tidak.
Ah, sungguh pelajaran hidup yang baik. Tapi yang paling penting, harapanmu itu belum tentu yang terbaik. Harapan itu belum tentu kehendak Tuhan. Meski harus meninggalkan harapan saat ini, cobalah untuk berjalan dengan kehendak Tuhan. Siapa tahu, di tengah jalan kamu menemukan harapan baru yang lebih berkilau daripada sebelumnya.
Harapan. Kedengarannya menyenangkan. Aku berharap semoga begini, aku berharap semoga begitu. Harapan kuibaratkan seperti sesuatu yang disenangi.. Sesuatu yang berkilau, seperti emas.
Aku ingin emas yang sangat berkilau. Aku ingin harapanku menjadi kenyataan. Dalam kehidupan aku memiliki banyak harapan, ada yang sudah terwujud, ada yang belum terwujud.
Oh betapa senangnya hatiku ketika harapanku terwujud. Aku kembali lagi berandai-andai dan menjalankan proses yang lain lagi. Ya, tidak mudah menjalaninya. Begitu banyak rintangan. Lalu suatu ketika aku terjebak di keadaan dimana aku harus mengorbankan harapanku sendiri.
Tidak, aku tidak berkorban demi harapanku waktu itu! Tapi aku berkorban untuk sesuatu yang katanya lebih penting; kesehatan.
Dengan berat hati aku harus melepaskan harapan itu begitu saja.
Aku buntu, bingung. Ini.... menyakitkan.
Sudah lama sejak kejadian itu. Hari ini aku teringat kembali dengan saat itu, lalu aku sadar beberapa hal.
Harapan itu bukan cuma angan-angan indah saja. Untuk mewujudkannya dibutuhkan proses, dan proses untuk menuju kesempurnaan itu tidak ada yang mudah. Emas harus ditempa, kain harus dijahit dengan jarum yang tajam agar menjadi baju yang bagus, bahkan kain batik sekalipun dibatik menggunakan lilin panas agar menghasilkan batik yang baik.
Seringkali, untuk mewujudkan harapan itu, kita perlu mengorbankan sesuatu; penting atau tidak.
Ah, sungguh pelajaran hidup yang baik. Tapi yang paling penting, harapanmu itu belum tentu yang terbaik. Harapan itu belum tentu kehendak Tuhan. Meski harus meninggalkan harapan saat ini, cobalah untuk berjalan dengan kehendak Tuhan. Siapa tahu, di tengah jalan kamu menemukan harapan baru yang lebih berkilau daripada sebelumnya.
No comments:
Post a Comment